HEADLINES

No headlines available.

Contoh PTK Bahasa Indonesia SMA (DIRECT INSTRUCTIONS)

PTK Bahasa Indonesia SMA

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA MELALUI MODEL DIRECT INSTRUCTIONS DENGAN PENDEKATAN MODELLING MENGGUNAKAN MEDIA POWERPOINT PADA SISWA KELAS XII MIPA-7 SMA NEGERI 17 IDE PTK TAHUN PELAJARAN 2018/2019

Abstract: Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penggunaan model pembelajaran Direct Instruction denganpendekatan modeling menggunakan media Powerpoint untuk meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia siswa kelas XII MIPA-7 SMA Negeri 17 Ide PTK pada Kompetensi Dasar Struktur dan kebahasaan teks editorial. Dalam penelitian ini rumusan masalahnya adalah “Bagaimanakah Peningkatan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Melalui Metode Direct Instructions denganpendekatan modeling menggunakan media power point Pada Siswa Kelas XII MIPA-7 SMA Negeri 17 Ide PTK Tahun Pelajaran 2018/2019?” Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII MIPA-7 SMA Negeri 17 Ide PTK yang berjumlah 30 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi yang dilakukan oleh peneliti sendiri, dokumentasi dan test. Observasi dilakukan sebanyak 4 kali pertemuan dengan 3 kali tindakan melalui penerapan model pembelajaran Direct Instruction denganpendekatan modeling denganmenggunakan media Powerpoint. Dokumentasi dilakukan untuk mengetahui keadaan sekolah, guru dan siswa. Data tentang hasil belajar siswa diperoleh melalui lembar hasil belajar bahasa Indonesia siswa sebelum dan sesudah tindakan. Kemudian peneliti memberikan tes, dan data kemudian dianalisis. Indikator keberhasilan dalam penelitian ini apabila hasil belajar siswa meningkat, yaitu nilai rata-rata yang dihasilkan 75 atau lebih dan siswa yang mendapat nilai 75 atau lebih berjumlah 85% dari jumlah siswa. Teknis analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif. Analisis ketuntasan berdasarkan skor yang diperoleh siswa sebelum tindakan diperoleh 8 orang siswa (46,67%). Sedangkan setelah tindakan diperoleh hasil sebagai berikut: Siklus I 20 orang siswa (66,67%), Siklus II 25 orang siswa (83,33%). Siklus III 30 orang siswa (100%). Berdasarkan hasil penelitian dari analisis tindakan, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Direct Instruction denganpendekatan modeling menggunakan media Powerpoint dapat meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia siswa kelas XII MIPA-7 SMA Negeri 17 Ide PTK. Ini dapat dilihat dari analisis ketuntasan belajar siswa kelas XII MIPA-7 setelah tindakan. Berdasarkan hasil analisis ketuntasan secara individual dari 30 siswa (100%), artinya telah melampaui ketuntasan klasikal yang ditetapkan yakni sebesar 85%.

Kata Kunci: Hasil Belajar, Direct Instruction, Modelling, Media Power Point

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Belajar merupakan proses individu memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Belajar adalah proses perubahan tingkah laku individu sebagai hasil pengalamannya dalam berinteraksi dengan lingkungannya (Rusman, 2012: 134). Menurut Aunurrahman (2009: 35) ada tiga ciri kegiatan belajar yaitu belajar menunjukkan suatu aktivitas pada diri seseorang yang disadari atau disengaja, belajar merupakan interaksi individu dengan lingkungannya, dan hasil belajar ditandai dengan perubahan tingkah laku.

Keberhasilan belajar siswa dapat dilihat dari prestasi belajar siswa. Nilai prestasi belajar dapat dipakai sebagai parameter untuk menilai keberhasilan proses kegiatan pembelajaran di sekolah dan juga mengukur kinerja guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Belajar adalah suatu proses yang dilakukan seseorang agar orang tersebut dapat mengetahui hal yang belum dia ketahui, mengerti apa yang sebelumnya belum dimengerti. Sedangkan prestasi belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya. Kemampuan- kemampuan tersebut mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotor.

Prestasi belajar bagi siswa sangat penting karena prestasi belajar merupakan salah satu gambaran tingkat keberhasilan dari kegiatan selama

mengikuti Pelajaran. Salah satu tujuan dalam proses pembelajaran adalah meraih suatu prestasi dalam belajar. Prestasi belajar merupakan hasil belajar yang diperoleh oleh siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru. Peranan orangtua sangatlah penting dalam membimbing bagi anaknya dalam memotivasinya untuk giat belajar. Supaya prestasi belajarnya baik, orangtua perlu mencurahkan seluruh bimbingan untuk anaknya. Prestasi belajar dapat dilihat melalui kegiatan evaluasi yang bertujuan Seorang guru harus kreatif dalam memilih model pembelajaran.

Dalam proses belajar mengajar guru dan siswa sangat berperan dalam mencapai keberhasilan penyelenggaraan pendidikan. Guru memegang peran yang dominan dalam proses belajar mengajar, sebab gurulah yang mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa. Aktivitas siswa di sekolah juga berperan sangat penting untuk mencapai keberhasilan pendidikannya. Keaktifan belajar dapat mengaktifkan interaksi siswa dengan tugas sehari-hari untuk belajar.

Untuk dapat mengenali dan mengembangkan potensi siswa tentunya dalam proses pembelajaran perlu pembelajaran yang bersifat aktif. Pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru tetapi berpusat pada siswa dan guru hanya sebagai fasilitator serta pembimbing. Dengan demikian, siswa memiliki kesempatan yang luas untuk mengembangkan kemampuannya seperti mengemukakan pendapat, berpikir kritis, menyampaikan ide atau gagasan dan sebagainya. Belajar aktif sangat diperlukan oleh siswa untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Ketika perta didik pasif, atau hanya menerima  dari pengajar ada kecenderungan untuk melupakan apa yang telah diberikan pengajar (Hisyam Zaini, 2008: XIV).

Pelajaran Bahasa Indonesia selama ini terlihat menggunakan metode pembelajaran yang kurang menarik sehingga siswa merasa jenuh dan kurang minat pada Pelajaran Bahasa Indonesia. Akibatnya, kelas cenderung pasif dan hanya sedikit siswa yang bertanya pada guru tentang materi yang belum dipahami. Perhatian, prestasi belajar siswa pun menjadi rendah. Hal ini berefek terhadap ketidaktuntasan belajar siswa pada Pelajaran Bahasa Indonesia di kelas XII MIPA-7 SMA Negeri 17 Ide PTK.

Secara umum, proses pembelajaran Pelajaran Bahasa Indonesia di SMA Negeri 17 Ide PTK belum optimal. Nilai yang diperoleh siswa tidak sepenuhnya mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditetapkan untuk kelas XII pada mata Pelajaran Bahasa Indonesia materi pokok teks cerita fiksi dalam novel yaitu 75.

Rendahnya  prestasi dan ketuntasan belajar siswa pada Pelajaran teks cerita fiksi dalam novel di SMA Negeri 17 Ide PTK disebabkan oleh beberapa faktor yaitu penyampaian materi selama ini hanya menggunakan metode pembelajaran konvensional dan hanya sesekali diskusi dan pemberian tugas yang membuat siswa merasa jenuh. Kedua, kurangnya media pembelajaran pendukung yang digunakan oleh siswa. Ketiga, model dan metode pembelajaran yang digunakan kurang bervariasi, inovasi sehingga membuat siswa bosan dan kurang tertarik pada Pelajaran teks cerita fiksi dalam novel.

Berdasarkan permasalahan di atas, peneliti akan menerapkan metode pembelajaran diskusi kelompok dan pemberian tugas pada kegiatan pembelajaran dalam bentuk tindakan kelas. Adapun alasan memilih metode pembelajaran diskusi kelompok dan pemberian tugas karena metode tersebut merupakan suatu metode pembelajaran yang dapat meningkatkan pengembangan konsep belajar siswa tentang bagaimana pengetahuan itu dibangun dalam pikiran siswa dan juga terampil dalam menemukan pengetahuan secara bermakna serta mengaitkannya antara pengetahuan lama dan pengetahuan baru untuk mengaplikasikannya pada kehidupan sehari-hari.

Keunggulan yang ada pada metode pembelajaran diskusi kelompok dan pemberian tugas  adalah dapat menimbulkan minat belajarsiswa dikarenakan siswa dilibatkan secara aktif dalam proses belajar mengajar. Metode ini juga melatih siswa untuk saling bersosialisasi dengan baik, maka metode ini menurut penulis sangat cocok diterapkan pada pembelajaran Bahasa Indonesia.

Selain itu, dengan menggunakan metode pembelajaran diskusi kelompok dan pemberian tugas siswa akan terminat untuk dapat mengungkapkan ide dalam tugas kelompoknya maupun dalam tugas individu. Dengan kata lain mereka memiliki tempat untuk mengeluarkan pendapat. Meningkatkan prestasi belajar siswa sesuai dengan tujuan yang diharapkan serta guru dituntut memiliki keterampilan dalam menyiapkan materi yang akan disampaikan.

Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk melakukan suatu penilaian untuk memberi variasi metode pembelajaran yang bersifat tidak monoton. Untuk itu, penulis mengambil judul “Penggunaan Metode Diskusi Kelompok Dan Pemberian tugas Dalam Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Bahasa Indonesia Materi Teks Fiksi Dalam Novel Siswa Kelas XII MIPA-7 SMA Negeri 17 Ide PTK Tahun Pelajaran 2018/2019”

  • Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1. Apakah prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa kelas XII MIPA-7 dapat meningkat melalui metode diskusi kelompok dan pemberian tugas tahun Pelajaran 2018/2019?
  2. Bagaimanakah indikator prestasi belajar siswa Kelas XII MIPA-7 SMA Negeri 17 Ide PTK selama proses pembelajaran pada Pelajaran Bahasa Indonesia materi pokok teks cerita fiksi dalam novel melalui penerapan  metode diskusi kelompok dan pemberian tugas ?
  • Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Meningkatkan prestasi belajar Bahasa Indonesia materi pokok teks cerita fiksi dalam novel siswa Kelas XII MIPA-7 SMA Negeri 17 Ide PTK dapat meningkat melalui metode  pembelajaran diskusi kelompok dan pemberian tugas tahun Pelajaran 2018/2019.
  2. Meningktkan indikator prestasi belajar siswa  kelas XII MIPA-7 SMA Negeri 17 Ide PTK selama proses pembelajaran pada Pelajaran teks cerita fiksi dalam novel melalui penerapan metode diskusi kelompok dan pemberian tugas.
  • Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai berikut.

  1. Bagi Siswa

Membantu siswa dalam kegiatan pembelajaran karena memberikan pengalaman baru dengan pembelajaran menggunakan metode yang berbeda yaitu metode diskusi kelompok dan pemberian tugas.

2. Bagi Guru

Sebagai bahan masukan dan pertimbangan untuk memanfaatkan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan.

3. Bagi Sekolah

Dapat dijadikan acuan bagi sekolah untuk meningkatkan kinerja sekolah pembelajaran yang diberikan di sekolah menggunakan berbagai strategi pembelajaran, fasilitas dan teknologi yang lebih maju.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

  1. Prestasi Belajar
  2. Pengertian Prestasi Belajar

Kata prestasi belajar terdiri dari dua suku kata, yaitu prestasi dan belajar. Kata “prestasi” berasal dari bahasa belanda yaitu “prestatie“ kemudian dalam bahasa indonesia menjadi prestasi yang berarti hasil usaha. Menurut WJS Poerwodarminto dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia menyatakan bahwa prestasi ialah hasil yang di capai (dilakukan, dikerjakan dsb.) Pengertian ini masih bersifat umum, maka untuk lebih jelasnya prestasi menurut istilah adalah: Syaiful Bahri Djamarah mengemukakan bahwa: “Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, baik secara individu maupun kelompok.”Menurut Lanawati Prestasi belajar adalah hasil penilaian pendidik terhadap proses belajar dan hasil belajar siswa sesuai dengan tujuan nstruksional yang menyangkut isi pelajaran dan perilaku yang di harapkan dari siswa.

Mas’ud Khasan Abdul Qohar mengemukakan Prestasi adalah apa yang telah dapat diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja. Sementara Nasrun harahap dan kawan-kawan memberikan batasan bahwa prestasi belajar adalah penilaian pendidikan tentang perkembangan dan kemajuan murid

yang berkenaan dengan penguasaan pelajaran yang disajikan kepada mereka serta nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum.

Prestasi adalah pengetahuan akan kemajuan-kemajuan yang dicapai dan pada umumnya berpengaruh baik terhadap pekerjaan-pekerjaan yang berikutnya, maksudnya prestasi lebih baik. Sedangkan Marsun dan Martaniah dalam Sia Tjundjing berpendapat bahwa prestasi belajar merupakan hasil kegiatan belajar, yaitu sejauh mana peserta didik menguasai bahan pelajaran yang di ajarkan yang diikuti oleh munculnya perasaan puas bahwa ia telah melakukan sesuatu yang baik. Hal ini berarti prestasi belajar hanya bisa diketahui jika telah dilakukan penilaian terhadap hasil belajar siswa.

Dari definisi yang telah dipaparkan di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa prestasi belajar adalah suatu hasil yang telah dicapai setalah mengevaluasi proses belajar mengajar atau setelah mengalami interaksi dengan lingkungannya guna memperoleh ilmu pengetahuan dan akan menimbulkan perubahan tingkah laku yang relatif menetap dan tahan lama.

  • Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

Prestasi belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor yakni:

  1. Faktor yang berasal dari diri siswa

Faktor yang datang dari siswa terutama kemampuan yang dimilikinya, di samping faktor kemampuan yang dimiliki siswa, ada juga faktor lain seperti motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan serta faktor fisik dan psikis.

  • Faktor yang berasal dari luar siswa

Prestasi belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kualitas pengajaran. Yang dimaksud dengan kualitas pengajaran ialah tinggi rendahnya atau efektif tidaknya proses belajar mengajar dalam mencapai tujuan pengajaran.

Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa yaitu sebagai berikut:

  1. Faktor yang tergolong internal, adalah:
  2. Faktor jasmaniah (fisiologi) baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh. Yang termasuk faktor ini misalnya penglihatan, pendengaran, struktur tubuh.
  3. Faktor psikologis baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh dari faktor intelektif dan non-intelektif.
  4. Faktor kematangan fisik maupun psikis.
  5. Faktor yang tergolong eksternal, adalah:
  6. Faktor sosial yang terdiri atas lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat dan kelompok.
  7. Faktor budaya seperti adat-istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian.
  8. Faktor lingkungan fisik seperti fasilitas rumah, belajar dan iklim.
  9. Faktor lingkungan spiritual atau keamanan.

 Tulus Tu’u mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa antara lain:

  1. Kecerdasan

Artinya bahwa tinggi rendahnya kecerdasan yang dimiliki seseorang siswa sangat menentukan keberhasilannya mencapai prestasi belajar, termasuk prestasi- prestasi lain sesuai macam kecerdasan yang menonjol yang ada dalam dirinya.

  • Bakat Bakat diartikan

Sebagai kemampuan yang ada pada seseorang yang dibawanya sejak lahir, yang diterima sebagai warisannya dari orang tuanya.

  • Minat dan perhatian

Minat adalah kecenderungan yang besar terhadap sesuatu. Perhatian adalah melihat dan mendengar dengan baik dan teliti terhadap sesuatu. Minat dan perhatian biasanya berkaitan erat. Minat dan perhatian yang tinggi pada suatu materi akan memberikan dampak yang baik bagi prestasi belajarnya.

  • Motif

Motif adalah dorongan yang membuat seseorang berbuat sesuatu. Motif selalu mendasari dan mempengaruhi setiap usaha serta kegiatan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkannya. Dalam belajar, jika siswa mempunyai motif yang baik dan kuat, hal itu akan memperbesar usaha dan kegiatannya mencapai prestasi yang tinggi.

  • Cara belajar

Keberhasilan studi siswa dipengaruhi pula oleh cara belajarnya. Cara belajar yang efisien memungkinkan siswa mencapai prestasi yang tinggi dibandingkannya dengan cara belajar yang tidak efisien. Cara belajar yang efisien sebagai berikut:

  1. Berkonsentrasi sebelum dan pada saat belajar
  2. Segera mempelajari kembali bahan yang telah diterima
  3. Membaca dengan teliti dan baik bahan yang sedang dipelajari, dan berusaha menguasai sebaik-baiknya
  4. Mencoba menyelesaikan dan melatih mengerjakan soal-soal.
  5. Lingkungan keluarga

Keluarga merupakan salah satu potensi yang besar dan positif memberi pengaruh pada prestasi siswa.

  •  Sekolah

Selain keluarga, sekolah adalah lingkungan kedua yang berperan besar memberi pengaruh pada prestasi belajar siswa.

  • Indikator Prestasi Belajar

Suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila hasilnya memenuhi tujuan intruksional khusus dari bahan tersebut. Indicator yang dijadikan sebagai tolak ukur dalam menyelakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat saat ini digunakan adalah:

  1. Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individual maupun kelompok.
  2. Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran instruksional khusus (TIK) telah dicapai oleh siswa baik secara individual maupun kelompok.

Dua macam tolak ukur di atas yang dapat digunakan sebagai acuan dalam menentukan tingkat keberhasilan proses belajar mengajar, tetapi indicator yang banyak dipakai sebagai tolak ukur keberhasilan siswa adalah daya serap.

  • Cara Mengukur Prestasi Belajar

Prestasi belajar merupakan hasil dari proses belajar yang berupa pengetahuan dan keterampilan yang dapat diukur dengan tes. Menurut pendapat Nana Sudjana (2005: 22) prestasi belajar terdiri dari 3 ranah yaitu:

  1. Ranah kognitif, berkenaan dengan prestasi belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.
  2. Ranah afektif, berkenaan dengan sikap nilai yang terdiri dari lima aspek, yaitu penerimaan, jawaban dan reaksi, penilaian, organisasi, internalisasi. Pengukuran ranah efektif tidak dapat dilakukan setiap saat karena perubahan tingkah laku siswa dapat berubah sewaktu-waktu.
  3. Ranah Psikomotorik, berkenaan dengan prestasi belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Pengukuran ranah psokomotorik dilakukan terhadap hasil-prestasi belajar yang berupa penampilan.

Sedangkan menurut Muhibbin Syah (2010: 140) mengatakan bahwa: “Evaluasi yang berarti pengungkapan dan pengukuran prestasi belajar itu pada dasarnya merupakan penyusunan deskripsi siswa, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Namun perlu penyusun kemukakan bahwa kebanyakan pelaksanaan evaluasi cenderung bersifat kuantitatif, lantaran simbol angka atau skor untuk menentukan kualitaas kesuluruhan kinerja akademik siswa dianggap nisbi.”

Dengan demikian prestasi belajar siswa dapat diukur dengan tiga ranah yaitu ranah kogitif, afektif dan psikomotorik. Ketiga ranah tersebut menjadi objek penelitian prestasi belajar. Dari ketiga anah tersebut, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh guru disekolah karena berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menguasai bahan pengajaran.

  • Metode Diskusi Kelompok dan Pemberian Tugas
  • Diskusi Kelompok
  • Pengertian Diskusi Kelompok

Metode diskusi kelompok adalah metode mengajar dengan mengkondisikan peserta didik dalam suatu group atau kelompok sebagai satu kesatuan dan diberikan tugas untuk dibahas dalam kelompok tersebut. Pengertian diskusi kelompok adalah salah satu bentuk kegiatan yang dilaksanakan dalam bimbingan.

Kegiatan diskusi kelompok merupakan kegiatan yang dilakukan dengan melibatkan lebih dari satu individu. Kegiatan diskusi kelompok ini dapat menjadi alternatif dalam membantu memecahkan permasalahan seorang individu.)

Moh. Uzer Usman (2005: 94) menyatakan bahwa diskusi kelompok merupakan suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan berbagai pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan atau pemecahan masalah.

  • Langkah-Langkah Diskusi Kelompok

Langkah-langkah dalam metode diskusi kelompok yaitu sebagai berikut :

  1. Guru menggunakan masalah yang ada didiskusikan dan memberikan pengarahan seperlunya mengenai cara-cara pemecahannya, hal terpenting adalah permasalahan yang dirumuskan sejelas-jelasnya agar dapat dipahami baik-baik oleh setiap siswa.
  2. Para siswa berdiskusi di dalam kelompok dan setiap anggota kelompok ikut berpartisipasi secara aktif.
  3. Setiap kelompok melaporkan hasil diskusinya, hasil-hasil yang dilaporkan itu ditanggapi oleh semua siswa (kelompok lain).
  4. Akhir diskusi para siswa mencatat hasil-hasil diskusinya dan guru mengumpulkan hasil diskusi dari tiap-tiap kelompok.
  5. Kelebihan dan Kelemahan Diskusi Kelompok

Adapun kelebihan dan kelemahan dari metode Diskusi Kelompok menurut Syaiful Bahri Djamarah (2000: 50) adalah sebagai berikut :

  1. Kelebihan metode diskusi kelompok adalah sebagai berikut:
  2. Dapat mendorong siswa untuk berfikir kritis
  3. Memupuk kemauan dan kemampuan kerja sama antara para siswa
  4. Mendorong siswa untuk mengeluarkan pendapatnya secara bebas.
  5. Membiasakan anak didik untuk mendnegarkan pendapat orang lain.
  6. Pemahaman materi lebih mendalam.
  7. Kelemahan metode diskusi kelompok adalah sebagai berikut :
  8. Membutuhkan waktu yang lebih lama apalagi bila penataan ruang belum siap dengan baik
  9. Peserta diskusi mendapat informasi yang terbatas
  10. Dapat di kuasai oleh orang – orang yang suka berbicara (aktif) sedangkan anggota yang lain hanya pasif (diam).

Penerapan metode diskusi kelompok menuntut guru untuk dapat mengelompokkan peserta didik secara arif dan proporsional. Pengelompokkan peserta didik dalam suatu kelompok dapat didasarkan pada :

  1. fasilitas yang, tersedia;
  2. Perbedaan individual dalam minat belajar dan kemampuan belajar;
  3. Jenis pekerjaan yang diberikan;
  4. Wilayah tempat tinggal peserta didik;
  5. Jenis kelamin;
  6. Memperbesar partisipasi peserta didik dalam kelompok
  7. Berdasarkan pada lotre / random.
  8. Selanjutnya, pembagian kelompok sebaiknya heterogen, baik dari segi kemampuan belajar maupun jenis kelamin terjadi dinamika kegiatan belajar yang lebih baik dan kelompok tidak terkesan berat sebelah yaitu ada kelompok yang kuat dan ada kelompok yang lemah.
  9. Pemberian Tugas (Penugasan/Resitasi)
  10. Pengertian Pemberian Tugas

Menurut Syaiful Bahri, Djamarah dan Aswan Zain (2002:96) metode Pemberian Tugas (penugasan/pemberian tugas) adalah metode penyajian bahan dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Menurut Mulyani Sumantri dkk (2001:130) mengemukakan bahwa “Metode Pemberian Tugas atau penugasan diartikan sebagai suatu cara interaksi belajar mengajar yang ditandai dengan adanya tugas dari guru untuk dikerjakan siswa di sekolah ataupun di rumah secara perorangan atau berkelompok”.

Sedangkan Supriatna, Nana, dkk (2007:200) mengemukakan bahwa metode penugasan (pemberian tugas) adalah suatu penyajian bahan pembelajaran dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar dan memberikan laporan sebagai hasil dari tugas yang dikerjakannya. Metode ini mengacu pada penerapan unsure-unsur “learning by doing”.

Dari tiga pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa  pemberian tugas adalah suatu penyajian bahan pembelajaran dengan cara guru memberikan tugas tertentu agar diselesaikan siswa sebagai salah satu bentuk kegiatan belajarnya, baik secara individu atau kelompok dan adanya laporan sebagai hasil dari tugas tersebut tanpa terikat dengan tempat.

Hal-hal yang hendaknya diketahui oleh guru dalam menggunakan metode Pemberian Tugas adalah sebagai berikut:

  1. Tugas dapat ditunjukan kepada siswa secara perseorangan, kelompok, atau kelas.
  2. Tugas dapat diselesaikan atau dilaksanakan dilingkungan sekolah (dalam kelas atau luar kelas) dan diluar sekolah.
  3. Tugas dapat berorientasi pada satu bidang studi ataupun berupa integrasi beberapa bidang studi (unit).
  4. Tugas dapat ditujukan untuk meninjau kembali pelajaran yang baru, mengingat pelajaran yang telah diberikan, menyelesaikan latihan-latihan pelajaran, mengumpulkan informasi atau data yang diperlukan untuk memecahkan masalah serta tujuan yang lain.

Metode Pemberian Tugas adalah sebagai komponen pengajaran di kelas jenjang dasar (elementary) atau sekolah dasar (Rosenshine dalam Supriatna, Nana, dkk, 2007:201). Namun demikian untuk menerapkan metode diskusi kelompok dan Pemberian Tugas secara efektif, guru hendaknya mempertimbangkan jumlah siswa, kemampuan siswa, dan jenis-jenis tugas yang diberikan.

  • Langkah-Langkah Metode Diskusi kelompok dan Pemberian Tugas

Menurut Ngalimun, 2018: 45-46 langkah-langkah metode pembelajaran diskusi kelompok dan Pemberian Tugas sebagai berikut:

  1. Fase Pemberian Tugas

Tugas yang diberikan kepada siswa hendaknya mempertimbangkan tujuan yang akan dicapai, jenis tugas dan tempat, sesuai dengan kemampuan siswa.  Tugas yang diberikan harus jelas dan petunjuk yang diberikan harus terarah.

  1. Langkah Pelaksanaan Tugas
  2. Diberikan bimbingan/pengawasan oleh guru.
  3. Diberikan dorongan sehingga anak mau melaksanakannya.
  4. Diusahakan atau dikerjakan oleh anak sendiri.
  5. Mencatat semua hasil yang diperoleh dengan baik dan sistematik.
  6. Fase Pertanggungjawaban Tugas/Pemberian Tugas

Hal yang perlu diperhatikan adalah:

  • Laporan siswa baik lisan/tertulis dari apa yang telah dikerjakan.
  • Ada tanya jawab dan diskusi.
  • Penilaian hasil pekerjaan siswa baik dengan tes atau non tes.

Fase mempertangungjawabkan tugas inilah yang disebut Pemberian Tugas.

  • Kelebihan dan Kekurangan Metode Pemberian Tugas

Metode Pemberian Tugas sebagai salah satu metode yang dikaji penulis dalam pembahasan ini tentunya juga memiliki kelemahan dan kelebihan seperti halnya dengan metode yang lain. Mengenai kelemahan dan kelebihan metode diskusi kelompok dan Pemberian Tugas adalah sebagai berikut :

  1. Kelebihan metode Pemberian Tugas :
  2. Baik sekali untuk mengisi waktu luang dengan hal-hal yang konstruktif.
  3. Memupuk rasa tanggung jawab dalam segala tugas pekerjaan, sebab dalam metode ini anak harus mempertanggungjawabkan segala sesuatu (tugas) yang telah dikerjakan.
  4. Memberi kebiasaan anak untuk belajar.
  5. Memberi tugas anak yang bersifat praktis
  6. Kelemahan metode Pemberian Tugas:
  7. Seringkali tugas di rumah itu dikerjakan oleh orang lain, sehingga anak tidak tahu menahu tentang pekerjaan itu, berarti tujuan pengajaran tidak tercapai.
  8. Sulit untuk memberikan tugas karena perbedaan individual anak dalam kemampuan dan minat belajar.
  9. Seringkali anak-anak tidak mengerjakan tugas dengan baik, cukup hanya menyalin pekerjaan temannya.
  10. Apabila tugas itu terlalu banyak, akan mengganggu keseimbangan mental anak.

Dengan memahami kelebihan dan kelemahan metode Pemberian Tugas di atas, tentunya akan menunjang pelaksanaan proses belajar mengajar yang dilakukan. Sebaliknya manakala guru tidak mengetahui kelebihan dan kekurangan satu metode mengajar. Maka akan menemui kesulitan dalam memberikan bahan pelajaran kepada siswa. Ini berarti guru tersebut gagal melaksanakan tugasnya mengajarnya di depan kelas.

Salah satu dampak yang sering kita lihat dari penggunaan metode yang tidak tepat yaitu ; anak atau siswa setelah diberi ulangan, sebagian besar tidak mampu untuk menjawab setiap item soal dengan baik dan benar. Akibatnya sudah dapat dBahasa Indonesiastikan bahwa prestasi belajar anak didik rendah. Di sisi lain, anak didik sering merasakan kebosanan. Situasi demikian menjadikan proses belajar mengajar menjadi kurang efektif dan kurang efisien.

Genre fiksi merupakan jenis teks yang dibuat berdasarkan imajinasi. Cerita fiksi atau cerita rekaan adalah imajinatif. Pada hakikatnya, cerita fiksi itu merupakan hasil olahan imajinasi penulis berdasarkan pengalaman , pandangan, tafsiran, kecendikiaan, wawasan, dan penilaiannya terhadap berbagai perisitiwa.

Penulis tidak sekadar menampilkan kembali fakta yang terjadi dalam kehidupan, melainkan telah membalurinya dengan imajinasi dan wawasannya sehingga teks cerita fiksi yang dihasilkan tidak sama persis dengan kehidupan nyata. Dalam menghasilkan sebuah karya sastra, pengalaman, pengetahuan, dan wawasan penulis sangat menentukan mutu kreasinya.

  • Struktur Teks Cerita Fiksi.

Struktur teks merupakan bagian atau cara teks tersebut dibangun. Mungkin masih ada diantara kita yang belum tau kalau struktur teks prosedur disusun oleh bagian abstrak, orientasi, komplikasi, evaluasi, resolusi, dan terakhir diikuti oleh koda. Untuk lebih jelasnya bisa lihat dibawah ini.

  1. Abstrak, merupakan bagian inti dari cerita tetapi bagian abstrak ini hanyalah opsional jadi boleh ada dan boleh juga tidak ada.
  2. Orientasi, merupakan bagian dari awal cerita dan pada bagian ini terdapat pengenalan latar, tema, ataupun tokoh pada teks cerita fiksi.
  3. Komplikasi, pada bagian mulai muncul permasalahan (klimaks).
  4. Evaluasi, mulai mengarah pada pemecahan masalah dan mulai tampaknya penyelesaian.
  5. Resolusi, berisi pemecahan dan penyelesaian masalah.
  6. Koda (reorientasi), amanat dan nilai-nilai yang diambil dari teks cerita fiksi.
  • Unsur Intrinsik Teks Cerita Fiksi

Sebuah teks cerita fiksi terdiri atas beberap unsur yang saling berkaitan, sehingga dapat terlihat ide yang disampaikan pengarang kepada pembacanya. Teks cerita fiksi ini merupakan karya sastra berbentuk prosa. Mengingat hakikat prosa adalah narasi (cerita), maka di dalamnya ada pelaku cerita (tokoh), rangkaian cerita (alur), pokok masalah (tema), pencerita, dan juga latar.

Untuk lebih jelasnya mengenai unsur intrinsik teks cerita fiksi dalam novel bisa sobat lihat dibawah ini.

  1. Tema, merupakan inti cerita ataupun inti permasalahan dalam suatu teks cerita fiksi dalam novel.
  2. Alur, merupakan rangkaian dan juga jalannya cerita. Dalam teks cerita fiksi alur terbagi menjadi 3 macam, yaitu alur progresif (alur maju), alur flashback progresif (alur mundur), dan juga alur maju-mundur.
  3. Tokoh/Penokohan, merupakan bagian bagaiman sang pengarang menggambarkan karakter dari tokoh-tokog yang diceritakannya. Untuk dapat mengetahui karakter tokoh dari teks cerita fiksi dalam novel bisa diketahui ketika si penulis menyebutkan langsung bagaimana karakter suatu tokoh atau bisa juga diketahui dari dialog dan jalannya cerita fiksi tersebut.
  4. Latar, merupakan bagaimana keadaan dari cerita fiksi yang ingin diceritakan oleh penulis. Seperti latar waktu dan juga latar tempat.
  5. Sudut Pandang, sudut pandang ini terdiri dari macam. Yaitu sudut pandang irang pertama dan sudut pandang orang ketiga.
  6. Amanat, merupakan makna atau pesan positif yang dapat kita ambil dari teks cerita fiksi dalam novel.
  • Kerangka Berpikir      

Pelajaran Bahasa Indonesia selama ini terlihat menggunakan metode pembelajaran yang kurang menarik sehingga siswa merasa jenuh dan kurang minat pada pelajaran Bahasa Indonesia. Akibatnya, kelas cenderung pasif dan hanya sedikit siswa yang bertanya pada guru tentang materi yang belum dipahami. Perhatian, prestasi belajar siswa pun menjadi rendah.

Rendahnya minat dan ketuntasan belajar siswa pada pelajaran Bahasa Indonesia di SMA Negeri 17 Ide PTK disebakan oleh beberapa faktor yaitu penyampaian materi oleh guru hanya menggunakan metode pembelajaran konvensional dan hanya sesekali memberikan tugas dan diskusi  yang membuat siswa merasa jenuh. Kedua, kurangnya media pembelajaran pendukung yang digunakan oleh siswa. Ketiga, model dan metode pembelajaran yang digunakan kurang bervariasi, inovasi sehingga membuat siswa bosan dan kurang tertarik pada pelajaran perkembangan mutakhir Bahasa Indonesia dunia. 

Penulis akan menerapkan metode pembelajaran diskusi kelompok dan Pemberian Tugas pada kegiatan pembelajaran dalam bentuk tindakan kelas. Keunggulan yang ada pada metode pembelajaran diskusi kelompok dan Pemberian Tugas  adalah dapat meningktkan prestasi belajar siswa dikarenakan siswa dilibatkan secara aktif dalam proses belajar mengajar. Metode ini juga melatih siswa untuk saling bersosialisasi dengan baik, maka metode ini menurut penulis sangat cocok diterapkan pada pembelajaran perkembangan mutakhir Bahasa Indonesia dunia. Penelitian ini mengkaji tentang metode pembelajaran diskusi kelompok dan Pemberian Tugas  untuk meningkatkan minat dan  prestasi belajar siswa kelas XII MIPA-7 SMA Negeri 17 Ide PTK.

  • Hipotesis Tindakan

      Hipotesis dalam penelitian ini adalah “Metode Diskusi Kelompok dan Pemberian Tugas dapat Meningkatkan Prestasi Belajar Bahasa Indonesia Siswa Kelas XII MIPA-7 SMA Negeri 17 Ide PTK Tahun Pelajaran 2018/2019”.

DAFTAR PUSTAKA

Agus, Suprijono, 2009, Cooperatif Learning, Surabaya, Pustaka Pelajar

Departemen Pendidikan Nasional, 2004, Teknologi Pendidikan, Jakarta, Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi

Dimyati dan Mudjiono, 2012, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta, Rineka Cipta

Igak Wardani, dkk, 2014, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta, Universitas Terbuka

Jhon M. Echols dan Hassan Sadily, 2016, Kamus Bahasa Inggris-Indonesia, Jakarta, Rhineka Cipta

Kunandar, 2010, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta, PT Grafindo Persada

Maman Suryaman, Suherli, Istiqomah, 2017, Bahasa Indonesia Kelas XII, Jakarta, Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud

Mudjiono, 2005, Tes Hasil Belajar, Jakarta, Bumi Aksara

Mulyo Abdurrahman, 2013, Pendidikan Bagi anak Berkesulitan Belajar, Jakarta, Rineka Cipta

Nana Sudjana, 2014, Penilaian Hasil Proseselajar Mengajar Bandung, Remaja Rosdakarya

Ngalim Purwanto, 2008, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, Bandung, Rosda Karya

Suharsimi Arikunto, dkk, 2008, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta, Bumi aksara

Syaiful Bahri Djamarah, 2004, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, Surabaya, Usaha Nasional

Thursan Hakim, 2005, Belajar secara Efektif, Jakarta, Puspa Swara

Trianto, 2010, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, Jakarta, Kencana

Yatim Riyanto, 2009, Paradigma Baru Pembelajaran, Kencana, Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Artikel masih di lockdown !!